16/05/2022

Penulis: nenengsusanti via Noveltoon

Bab 9 – Penawar Luka Hati

“Kakak belum pulang, mah?” tanya Ameera si gadis cantik kesayangan semua anggota keluarga.

“Belum, sayang.. kakakmu ada urusan” jawab mama, namun matanya melirik ke arah menantunya..

Seakan jawaban itu juga diperuntukan bagi Melisa, ia terlihat sedikit kecewa saat jam makan malam suaminya tak kunjung juga pulang.

“Makan, Mel” titah papa yang mengerti dengan kegelisahan menantunya itu.

“Iya, Pah..”

Sampai makan malam selesai, sosok yang ditunggu tak kunjung datang, ia memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh dan mengalihkan fikirannya. Di dalam kamar Melisa merebahkan tubuhnya di sofa depan TV, walau ia tak begitu memperhatikan namun setidaknya suara TV tak membuat kamarnya terlalu sepi.

Mas Reza kemana ya? Udah jam sembilan belum pulang!!

Melisa menghitung detik demi detik jam yang menggantung di dinding, detak jam sama seperti detak jantungnya yang mulai berfikir diluar batasnya, ia terus menunggu sampai matanya mulai tertutup rapat dan terlelap.

Ceklek..

Reza membuka pintu pelan, langkahnya langsung menuju tempat tidur yang tak berpenghuni, seprai yang rapih seakan menandakan pemiliknya belum menjamah..

Ia menoleh kearah TV yang masih menyala Reza tersenyum, dugaannya ternyata benar bahwa sang istri tertidur disana..

“Pasti nungguin, Aku” ujarnya pelan, Reza berjongkok agar wajahnya bisa sedikit sejajar dengan wajah istrinya..

“Aku mandi dulu, ya” ia beranjak bangun, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Selesai memakai baju tidur Reza kembali ke sofa, mengangkat tubuh mungil istrinya ke pusara ranjangnya.. Ia rebahkan dengan perlahan, agar Melisa tak sampai terbangun..

“Maaf, aku pulang telat” bisiknya pelan.

Reza memeluk istrinya dalam dekapannya, rasa hangat dan nyaman langsung menyeruak dalam dirinya.. ia mencium pucuk kepala Melisa yang berada di dada bidangnya, Reza masih meraba relung hatinya yang masih samar..

“Yang aku tahu, sekarang aku tak bisa tanpamu, kamu mulai menguasai pikiranku”

“Biarkan aku terus berusaha, dan Tuhan tetap yang menentukan. Namun jika aku boleh menawar aku hanya ingin kamu saja!” Reza terus berbicara dengan hatinya sendiri, menerima wanita yang tak dikenalnya sama sekali membutuhkan rasa sabar yang luar biasa, beruntungnya ia mendapatkan sosok istri yang polos bukan seperti wanita-wanita yang Reza kenal selama dua tahun ini..

Reza semakin mengeratkan pelukannya saat Melisa menggeliat, ia mengelus punggung istrinya agar kembali terlelap.

“Diem ya, jangan sampe aku khilaf” bisiknya lagi lalu mencium seluruh wajah Melisa kecuali bibirnya..

*****

“Bukannya aku semalam tiduran di sofa ya, kenapa pagi ini di tempat tidur, dan ini? lagi lagi tangan besarnya ada di atas perut ku” dengus Melisa kesal karna ia akan sulit untuk bergerak.

“Mas, aku mau bangun” ucap Melisa menepuk pelan pipi suaminya.

“Hem,” jawabnya, namun alih-alih menghindar Reza justru mengangkat satu kakinya untuk menindih isterinya.

“Mas Reza!!!” Reza mengerjap kaget, dan mengucek kedua matanya.

“Ada apa sih?” tanyanya setengah sadar.

“Mas Reza geser, aku mau bangun udah siang” ucapnya geram.

“Mau bangun?” ia malah balik bertanya.

” IYA.. AWAS!!”

“Cium dulu” goda Reza, ia menunjuk sebelah pipinya.

“Gak mau,” tolak Melisa.

“Aku hukum ya!” ancam Reza tak main-main.

Bagai buah simalakama, akhirnya ia menurut, Melisa mencium pipi suaminya sekilas..

“Lakukan ini setiap pagi,” titah Reza.

“Iya, suamiku” Jawab Melisa kesal..

__________

“Maaf ya,” ucap Reza penuh penyesalan. Saat istrinya sedang memakaikan dasi dilehernya.

“Untuk apa?” tanya Melisa bingung,

“Karena aku pulang terlambat” jawabnya.

“Gak apa, asal jangan keseringan”

Reza mengangguk, lalu memeluknya erat.

“Aku usahakan untuk pulang cepat, ya”

“Iya, Mas!” balasnya malu-malu..

“Aku suka wajah merahmu, Mel.. cantik”.

“Eits, jangan!! jangan kamu tutupin.. aku suka liatnya” goda Reza saat Melisa mencoba menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar dibuat salah tingkah..

“Tapi aku malu” ucap Melisa.

“Sini..” Reza malah menarik kembali tubuh istrinya kedalam pelukannya..

“Kalau malu peluk aku aja ya, kamu bisa sembunyi disini” ucap Reza lembut..

“Mas, aku–_” Melisa tak kuasa berbicara, apa yang ia rasakan tak mampu ia ungkapkan..

***

“Hari ini mau kemana?” tanya Reza sebelum berpamitan diteras rumahnya..

“Kayanya dirumah aja,”

“Kalau jenuh kamu bisa ke kantor, ya!”

“Hem, baiklah aku nanti bawakan makan siang buat mas Reza”

“Haha, istri pintar” Reza mencubit hidung istrinya gemas..

Ritual Cap Cip Cup pun terjadi (anak ayam bayangin aja sendirinya)

Setelah kepergian suaminya, Melisa memilih membantu mama di kebun belakang, ia memperhatikan tangan mama mertuanya itu yang sangat cekatan..

“Ini tanaman yg sedang viral kan, mah?” tanya Melisa.

“Iya, sayang”

“Dulu banyak di sekolah ku, gak banyak yang minat tapi sekarang harganya fantastis”

“Karna sekarang langka” jawab mama.

“Yang tadinya terbengkalai namun saat ini bisa jadi primadona” sambungnya lagi..

Melisa hanya mangut-mangut, sembari terus memegang daun hijau berlubang itu…

“Mah, aku mau ke kantor mas Reza, mau bawa makan siang untuknya.”

“Benarkah?”

“Iya, Mah..”

“Ya sudah, kamu bisa suruh pelayanan untuk memasak” titah mama..

“Aku yang akan masak sendiri, mah”

“Terserah kamu kalau begitu” ucapnya..

Melisa beranjak dari duduknya menuju dapur kotor, ia membuka kulkas dan mencari bahan makanan untuk ia masak..

“Udang dan brokoli” gumam Melisa.

Tangan mungilnya kini dengan cekatan meracik bumbu, mengolah semua bahan makanan menjadi hidangan yang istimewa..

Melisa memang pandai memasak, besar di panti asuhan membuatnya menjadi pribadi yang mandiri .

“Selesai” ia bertepuk tangan kecil saat melihat semuanya beres tepat waktu..

Mas Reza beneran ada dikantor gak ya? aku gak punya no ponselnya. Bathin Melisa kesal..

“Maaaaah,!” panggil Melisa kembali ke kebun belakang.

“Ada apa?” tanya mama.

“Aku boleh minta no ponsel Mas Reza?” ucap Melisa malu-malu..

Mama mengernyitkan dahinya, bingung!

“Kalian?” tanya mama,

“Iya, mah.”

Mama mengulum senyum lalu beranjak ke meja kecil untuk meraih ponselnya.

“Carilah, namanya Little son” ucap mama terkekeh..

“Hah? manis banget, mah!” Melisa ikut terkekeh.

“Kamu jangan bilang Reza ya” pinta mama..

“Sip, Mah!” Melisa mengacungkan jempolnya setelah mendapat nomer suaminya, ia langsung berlari menuju kamarnya, rasa tak sabar ingin segera menghubungi Reza.

“Aku telpon atau chat, ya?” batin Melisa.

“*Ko sama sih deg-degannya*” Melisa nampak kebingungan harus memilih jalan apa untuk menghubungi suaminya..

“Chat aja deh!” gumamnya lagi..

Melisa [Mas, aku ke kantormu sekarang, ya!]

Dikantor, Reza selesai mengadakan rapat ia masih duduk bersandar di sofa sembari memijit pelipisnya, ada masalah pekerjaan yang akhir-akhir ini sedikit menguras pikirannya..

Drrttt drrrttt

Terasa getaran ponsel di saku jasnya, segera ia rogoh untuk meraihnya.. +62888++++ [ Mas, aku ke kantormu sekarang, ya! ] seulas senyum tergambar di wajah letih Reza bagai mendapat asupan energi setelah membaca pesan dari orang yang kini menjadi penawar luka hatinya..

##########

Baca Serial Lengkapnya : Suami Dadakan

Leave a Reply

Your email address will not be published.