06/08/2022

Penulis: nenengsusanti via Noveltoon

Bab 8 – Penantian yang Sia-Sia

“Mel,” panggil Ilham pada Melisa yang baru keluar dari kamar Umi, ia sengaja menunggu untuk membicarakan sesuatu..

“Ada apa, kak?” tanya Melisa saat menghentikan langkahnya..

“Ada yang mau aku omongin, bisa kita bicara sebentar?”

Melisa menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengekor dibelakang Ilham menuju teras depan.

“Ada apa ya, Kak?” tanya Melisa penasaran..

“Apa benar kamu sudah menikah?” Ilham balik bertanya dengan tatapan tajamnya.

“Iya,!” jawab Melisa singkat.

“Ternyata penantian ku sampai kamu menjadi gadis dewasa sia-sia” lirih Ilham..

“Maksudnya, apa ya?” Melisa bingung dengan apa yang dibicarakan pria yang duduk hadapannya itu..

“Selama ini, aku mencintaimu, Mel.” ucap Ilham.

Melisa yang mendengar tentu tak percaya, pria yang ia anggap kakak selama 10 tahun itu mempunyai perasaan cinta padanya, terlebih Ilham selama ini selalu bersikap biasa terhadapnya.

“Gak mungkin!” balas Melisa, ia mengatur posisi duduknya untuk lebih santai,

“Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya, namun ternyata aku kalah cepat dari suamimu”

“Maaf, kak.. aku benar-benar gak tahu” ujar Melisa nampak serba salah..

Ilham menarik nafasnya dalam, pandangannya kosong jelas terlihat aura kekecewaan dalam dirinya, selama ini ia membatasi diri untuk lebih dekat dengan Melisa namun nyatanya ia tak memiliki kesempatan untuk meminang wanita pujaannya itu…

“Mel,” suara mba Asih membuyarkan lamunan keduanya,

Melisa menoleh dan mba Asih membisikkan sesuatu padanya, kemudian pergi meninggalkan Melisa lagi berdua dengan Ilham..

“Kak, Ilham.. aku pamit ya, udah dijemput” ucap Melisa.

“Masih siang!!” jawab Ilham, yang melihat jam dipergelangan tangannya..

“Iya, tapi aku udah dijemput,”

“Ya sudah, dan untuk yang tadi jangan terlalu dipikirkan atau menghindar dariku.. anggap ucapanku tak pernah kamu dengar”

Melisa mengangguk paham dan berlalu meninggalkan Ilham, ia pun sedang kebingungan dengan kedatangan pak Agus tiba-tiba untuk menjemputnya..

***

Pak Agus membuka pintu saat mobil berhenti tepat di lobbi sebuah gedung tinggi bagai pencakar langit, gedung mewah yang memiliki tiga puluh lantai itu tak lain adalah milik suaminya sendiri..

“Mari, Non” ajak pak Agus menuju meja resepsionis..

“Iya, Pak” jawab Melisa yang berjalan dibelakang supir keluarga Rahardian Wijaya.

“Mba, mau ke lantai pak Reza” ujar pak Agus pada salah satu wanita dibalik meja resepsionis..

“Tamu pak Presdir?” tanya wanita itu.

Pak Agus mengangguk sambil tersenyum..

Melisa yang menunggu terus memperhatikan perusahaan suaminya yang terkesan sangat mewah dan elegan, sampai pak Agus memanggilnya berkali-kali ia baru tersadar..

“Mari, Nona saya antar langsung keruangan pak Reza” lagi-lagi Melisa hanya mengekor dibelakangnya, terasa risih saat para karyawan menatapnya penuh tanda tanya, pak Agus yang sudah terkenal sebagai supir dari Presiden Direktur mereka hari ini membawa seorang gadis cantik..

Tok tok tok..

Pak Agus langsung mengetuk pintu kaca yang terpampang nama Reza Rahadian Wijaya sebagai Presiden Direktur..

“Masuk,” jawab pria dari dalam sana..

Pak Agus segera membuka pintu, meski nampak ragu akhirnya Melisa masuk lebih dulu, ia melihat wanita cantik dengan rok span berwarna coklat yang senada dengan blazernya sedang berdiri di depan meja kerja suaminya..

Terlihat Reza masih fokus dengan ballpoint juga tumpukan kertas yang sedang ia tanda tangani sampai belum sedikitpun meliriknya.

“Ada lagi?” tanya Reza pada wanita sexy itu..

“Sudah, Pak” jawabnya sopan..

“Terimakasih,”

“Saya permisi” ia menundukan sedikit kepalanya kepada Reza dan Melisa sebelum keluar dari ruangan yang tak sembarangan orang bisa masuk..

“Siapa?” tanya Melisa penasaran..

“Yang mana?” Reza justru balik bertanya.

“Yang cantik tadi”

“Kamu!!” jawab Reza singkat..

“Bukan aku, aku tanya wanita cantik tadi siapa?”

“Ya kamu..!!” Jawab Reza lagi, ia kini mulai bangun dari duduknya dan menghampiri istrinya yang masih berdiri dekat pintu..

“Serius, Ih!!” Melisa sudah memanyunkan bibirnya kesal..

“Kamu tanya wanita yang cantik kan? ya aku jawab KAMU..karena kamu memang cantik, terus salahku dimana?” kini Reza memegang bahu Melisa dengan kedua tangannya..

“Aku tanya wanita yang tadi” ujar Melisa.

“Kalau wanita yang tadi itu sekretarisku namanya Viana, tapi kalau wanita yang cantik itu istriku namanya Melisa”

Melisa langsung membalikkan tubuhnya, ia langsung menutup wajahnya yang pasti sudah merah seperti kepiting rebus, kesempatan ini tentu tak dibuang begitu saja oleh Reza, Ia peluk istrinya dari belakang, melingkarkan tangannya diperut rata sang istri..

“Kenapa?” bisik Reza di sela perpotongan leher jenjang Melisa..

Bibirnya sudah mengecup area itu dengan lembut penuh perasaan….

“Gak apa-apa, aku–_” Melisa tak meneruskan perkataannya karena rasa sakit saat suaminya lagi-lagi mengecupnya dengan keras..

“Makan dulu, Yuk.. aku laper” ucap Reza lalu memutar tubuh Melisa agar menghadapnya..

“Mas Reza belum makan, ini udah lewat jam makan siang,”

“Iya belum sempet,” jawabnya, lalu melepaskan jasnya dan menggulung sedikit lengan bajunya, ia meraih kunci mobil dari dalam laci dan menggandeng tangan istrinya menuju parkiran mobil khusus para petinggi perusahaan..

Semua mata karyawan tertuju pada pasangan ini, tak ada yang tahu tentang pernikahan bos besar mereka, maka dari itu kedatangan Melisa hari ini adalah hari patah hati para kaum jomblo di kantor Reza yang sedari dulu berlomba menaklukkan hati Presdir tampan itu..

“Kamu mau makan apa?” tanya Reza saat menyalahkan mesin mobilnya.

Melisa masih diam, sebenarnya ia tak lapar tapi demi suaminya ia pun tak sanggup menolak..

“Apa aja,Mas”

“Ok, Sop Iga kayanya enak,” ujar Reza dengan senyum kecilnya, sepertinya ia sudah sangat lapar.

Sampai di sebuah rumah makan dengan berbagai menu lokal Nusantara, Reza memilih meja yang berada di ujung dengan kolam ikan di bawahnya.. sejuk.. itulah yang ia rasakan..

Sebelum pesanan tiba, keduanya masih mengobrol santai hanya seputar basa-basi biasa saling bertanya dan menjawab..

Sampai mereka menghabiskan makanannya dengan lahap tanpa sisa .

“Mau pulang atau ikut lagi ke kantor?”

“Pulang aja deh,” jawab Melisa, ia risih dengan tanda merah di lehernya walau kecil namun membuatnya tak nyaman..

“Ok,” Reza menjalankan kereta besi mewahnya menuju komplek perumahan elite di tengah ibu kota, dengan kecepatan sedang akhirnya mobil berhenti tepat di depan pagar tinggi berwarna hitam itu.

“Aku gak turun ya, mau langsung balik kantor” ucap Reza yang membuat Melisa sedikit kecewa..

“Ya sudah, mas Reza hati-hati di jalan, ya” pesan Melisa.

“Hati aku mah udah ada dikamu, bukan di jalan” goda Reza..

“Bawa mobilnya, Mas”

“Oh, hahaha” Reza terkekeh melihat raut kesal diwajah istrinya itu

“Aku masuk ya,”

“Tunggu, Mel..” Melisa tak jadi membuka pintu, ia kembali menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya..

CUP

satu kecupan mendarat di keningnya,

“Hadiah buat kamu, karna mau dateng ke kantor..

CUP

satu lagi kecupan di pipi kanannya.

“Hadiah lagi, karena mau temenin aku makan siang”

CUP

lagi lagi kecupan di pipi kirinya.

“ini hadiah buat apa?” tanya Melisa..

“bukan hadiah itu sih,” jawab Reza..

“Lalu?”

“Ya kali cuma di kening sama pipi kanan ya kasian lah sama yang kiri takut pengen nyobain bibir aku” jawabnya yang di iringi gelak tawa..

“Aaaww,”

Tawanya terhenti saat Melisa mencubit lengannya dengan keras .

“Nyebelin!!!” sungut Melisa kesal lalu keluar dari mobil suaminya,

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Baca Serial Lengkapnya : Suami Dadakan

Leave a Reply

Your email address will not be published.