16/05/2022

BAB 11 – Anna, Bella, Luna

“Anna, coba ku lihat lehermu, kenapa ini merah-merah? tapi warnanya tidak terlalu jelas,” ucap Bella sambil menyingkap rambut panjang Anna ke belakang dan mengamati leher sang kakak ipar.

Luna pun ikut mengikuti.

“Iya, seperti bekas cupaang tapi ragu-ragu, jadi hasilnya tidak maksimal,” celetuk Luna.

Kini giliran Luna dan Bella yang tertawa keras. Mereka berdua memikirkan hal yang sama, ini adalah ulah si kakak sulung manusia paling dingin dan berwajah seperti kanebo kering, Alamsyah Dude.

“Apa semalam kalian melakukannya?” tanya Luna dengan mengerlingkan sebelah mata, genit-genit menggoda.

“Ayo katakan jangan malu-malu,” goda Bella juga. Bahkan menoel dagu Anna dengan usil.

“Iisss!! apa yang kalian bicarakan sih, melakukan apa? Aku tidak tahu, semalam aku mabuk,” jawab Anna dengan kesal.

“Ha? mabuk, wah parah! aku akan mengatakannya pada mama.” Luna si tukang ngadu.

“Heish! mana boleh seperti itu! aku tidak sengaja mabuk, lagipula saat itu aku bersama Alam.”

“Jadi kalian melakukannya disaat kamu mabuk?” Bella bertanya dengan mata melotot.

“Melalukan apa? kami tidak melakukan apa-apa.”

“Apa yang kamu ingat tentang semalam?” tanya Luna.

“Tidak ada, terakhir yang ku ingat hanya saat berada di cafe. Setelahnya lupa semua.”

“Hem, berarti Alam diam-diam mencium mu.” Bella.

“Ish, mana ada seperti itu. Alam tidak mungkin melakukannya.”

“Kamu mabuk, mana kamu ingat apa yang Alam lakukan.” Luna protes.

“Iya juga ya,” cicit Anna.

Sebuah jawaban yang memancing tawa Bella dan Luna hingga menggelegar di lantai 2 itu. Mereka terus saling berbincang, bertukar cerita, tawa dan canda. Sampai tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam.

Rachel di lantai 1 yang masih mendengar anak-anaknya berisik pun menghampiri ke lantai 2. Menegur ketiga wanita itu untuk menyudahi obrolan mereka.

“Sstt! sudah sudah, kembali ke kamar masing-masing,” titah Rachel.

“Kamu bukannya besok jaga pagi? malah tidur larut malam begini!” kesal Rachel pada anak bungsunya, Luna.

Bella dan Anna diam saja, cari aman.

Mereka semua berpisah dan menuju kamar masing-masing. Anna masuk ke dalam kamar dimana Alam berada.

Membuka pintu secara perlahan, takut menganggu Alam yang mungkin saja sudah tidur.

“Sudah selesai ngrumpi nya?” tanya Alam tiba-tiba hingga membuat Anna berjangkit kaget.

Lalu menoleh dan melihat Alam yang duduk di sofa. Sofa itu berada di balik pintu, membuatnya tidak menyadari ada Alam disana.

“Ya ampun, bisa tidak jangan membuatku kaget,” keluh Anna.

“Kamu masuk seperti pencuri, karena itulah aku menegur mu.”

“Ku kira kamu sudah tidur, karena itu aku masuk pelan-pelan biar tidak menganggu.”

“Cih! tidak mengganggu? lalu kamu pikir apa aku bisa tidur dengan nyenyak saat kamu, Bella dan Luna tertawa keras seperti tadi, kalian bertiga seperti hidup di dalam hutan.”

Anna mendengus, namun sudut hati kecilnya membenarkan pula ucapan Alam itu. Tidak ingin mengucapkan kata maaf, Anna segera berlalu dari sana dan menuju kamar mandi. Mengganti baju dengan baju tidur dan mencuci wajah.

Lalu kembali ke dalam kamar dan melihat Alam yang sudah bersiap naik ke atas ranjang.

“Kita tidur seranjang?” tanya Anna dengan raut wajah tak percaya.

“Semalam juga kita tidur seranjang.” balas Alam, sengaja memancing agar Anna ingat tentang penyatuan itu.

Namun sungguh Anna tidak ingat apa-apa.

“Jadi semalam kamu tidur di kamar itu juga?” tanya Anna lagi.

“Iya, aku bangun lebih dulu.”

“A-apa kamu mencium leher ku?” tanya Anna gagap.

Dan Alam langsung menatap Anna yang sedang berdiri ketika mendengar pertanyaan itu.

“Tidurlah, kamu terlalu banyak bicara,” balas Alam.

Pertanyaan Anna membuatnya ingat jelas tentang kenikmatan semalam, membuatnya frustasi dan ingin segera tidur. Tidak, tidak. Aku tidak boleh menyentuh Anna lagi. Batin Alam dengan mata terpejam.

…ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ…

Baca Selengkapnya : Istri Simpanan dr. Alamsyah

Nama Author : Lunoxs via noveltoon.mobi

Leave a Reply

Your email address will not be published.