02/12/2022

JAKARTA – Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, bahwa teknologi Blockchain adalah suatu rantai blok urut yang dirangkai dan didistribusikan bersama. Setiap blok terdiri dari ledger atau buku besar dan tiga elemen, yaitu data, hash, dan hash dari blok sebelumnya.

Data yang digunakan pada teknologi ini bergantung pada tujuan blockchain itu sendiri, contohnya dalam bitcoin data block berisikan seluruh detail transaksi, mulai dari jumlah koin, pengirim, hingga penerima.

Sektor keuangan adalah salah satu bidang yang umumnya menerapkan teknologi blockchain. Namun beberapa penelitian saat ini berfokus pada pengaplikasian blockchain pada sektor lainnya, salah satunya pada bidang kesehatan, khususnya rekam medis pasien.

Rekam medis merupakan rekaman kesehatan data pasien berupa identitas, hasil pemeriksaan, riwayat intervensi yang diberikan, pengobatan serta data lain yang berkaitan dengan status pasien.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah mengatur regulasi rekam medis melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis, dan Permenkes RI Nomor 55 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis. Dalam kebijakan tersebut dijelaskan bahwa data rekam medis merupakan suatu dokumen yang sangat rahasia dan hanya boleh ditulis oleh dokter atau pihak tenaga kesehatan yang melakukan tindakan kepada pasien tersebut.

Mekanisme pada penyimpanan rekam medis pasien sangat mirip dengan mekanisme pada transaksi mata uang kripto yang menggunakan teknologi blockchain, sehingga muncul pertanyaan apakah teknologi blockchain ini dapat diterapkan pada rekam medis pasien?

Salah satu keunggulan dari teknologi blockchain adalah immutable, yaitu data yang tidak dapat diubah atau dirusak, kerahasiaan dan keamanan dari data akan semakin kuat sehingga pada penerapannya di rekam medis akan sangat bermanfaat, terutama pada diagnosa dokter dan klaim asuransi kesehatan yang tidak valid.

Baca Juga : Bagaimana Pelayanan Kesehatan Akan Menuju ke Teknologi Blockchain

Penggunaan Blockchain pada Bidang Kesehatan

Teknologi blockchain cocok untuk bidang kesehatan karena banyak data yang dihasilkan bersifat berkesinambungan, contoh dari data pasien, riwayat pengobatan hingga rantai distribusi obat. Termasuk di dalamnya adalah data studi dan riwayat kompetensi para tenaga kesehatan.

Blockchain (rantai blok) merupakan buku besar (ledger) digital terdistribusi yang terus berkembang. Buku ini berisi kumpulan catatan data dalam blok-blok. Buku besar digital ini terhubung dalam rantai jaringan server komputer yang saling terhubung satu sama lain setelah melalui proses enkripsi kriptografi yakni perubahan data ke dalam sistem kode. Untuk bisa membaca data ini, pengakses harus punya kata sandi tertentu.

Jaringan yang terhubung ini bisa bersama-sama menjalankan sebuah protokol yang disepakati bersama dengan menggunakan metode algoritme matematika. Teknologi blockchain yang digagas oleh Satoshi Nakamoto (nama samaran) pada 2008 menjadi terkenal berkat mata uang digital fenomenal Bitcoin. Teknologi blockchain ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Teknologi blockchain generasi terbaru (generasi 3.0) mengusung aplikasi terdesentralisasi (DApp), yakni menggunakan jaringan yang saling berbagi (peer-to-peer).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *