27/09/2022

Penulis: nenengsusanti via Noveltoon

Bab 1

Langkah kaki seorang gadis bernama Melisa terhenti tepat di sebuah rumah sederhana, bangunan dengan halaman yang tak begitu luas itu sudah menjadi tempat tinggalnya selama 20 tahun ini.

Rumah yang selalu nampak sepi kini terlihat lebih ramai dari biasanya, beberapa orang sudah berkumpul di teras rumahnya.

Terdengar bisik-bisik yang tak begitu jelas dari para tetangga sekitar saat melihat Melisa baru sampai dari panti asuhan tempat ia mengajar para anak yatim piatu setiap hari.

“Nah, ini dia pengantinnya,” ucap ibu yang membuat Melisa tersentak kaget.

“Pengantin siapa bu? siapa yang akan menikah? ” tanya Melisa bingung.

Namun dengan cepat sang ibu langsung menarik tangannya masuk kedalam ruangan yang menjadi tempat tidurnya selama ini.

“Diam disini, tunggu Bi Ratih datang untuk menghiasmu”

“Tapi, Bu?” ucap melisa panik.

“Jangan membantah!”

***

“Takdir menyedihkan apa lagi ini Tuhan?”

Melisa yang sudah duduk lemas ditepi ranjang hanya menatap nanar punggung sang ibu yang semakin menjauh dan hilang dari hadapannya, ia terisak menangisi hidupnya, hidupnya yang lagi-lagi ibunya yang menentukan.

Ceklek.

Terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Melisa menoleh.

“Nak, ” sapa wanita paruh baya yang terkenal sebagai perias pengantin.

“Bi Ratih, ” Melisa langsung berhambur memeluk wanita itu untuk menumpahkan kesedihannya.

“Ada apa? kenapa menangis?” tanya Bi Ratih heran.

“Apa aku akan menikah?” Melisa justru balik bertanya di sela-sela isak tangisnya

Bi Ratih memeluk Melisa dengan erat, di usapnya punggung anak gadis itu dengan rasa kasihan, Bi Ratih tak memberi jawaban ia hanya menganggukan kepalanya tanda membenarkan pertanyaan Melisa.

Melisa yang mengerti justru semakin histeris menangis dalam pelukannya.

“Apa ibumu tak memberitahumu lebih dulu?”

Melisa menggeleng kan kepalanya.

“Sudahlah, semua sudah terjadi calon suamimu akan segera datang” ucap Bi Ratih sembari menghapus air mata Melisa.

“Tapi aku tak ingin menikah, Bi!”

“Lalu apa kamu bisa menentang ibumu?” tanya Bi Ratih, Melisa hanya menundukkan wajahnya dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Ayo bersihkan wajahmu dulu”

Bi Ratih menuntun Melisa menuju kamar mandi, lama ia berada di dalamnya sampai Bi Ratih harus beberapa kali mengetuk pintu memintanya untuk segera keluar.

“Sudah, Nak! hentikan air matamu, semua sudah terjadi siapapun tak ada yang bisa merubah keputusan ibumu”

Perkataan Bi Ratih membuat Melisa semakin histeris, ia merasakan sesak dalam dadanya hingga sulit untuk bernafas.

xxxx xxxx

“Cepat Selesaikan,” perintah ibu pada Bi Ratih saat membantu Melisa memakaikan sebuah kebaya modern berwarna putih di tubuh langsingnya.

“Siapa pria bodoh itu?” gumam Melisa geram.

Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.

“Baiklah, sudah siap,” ucap Bi Ratih.

Melisa hanya terdiam menatap wajahnya sendiri di depan cermin meja riasnya.

Berbeda!

Ya, hari ini tampilannya sungguh berbeda, rambut yang biasanya panjang terurai kini tersanggul rapih dengan hiasan bunga melati yang harum dan segar.

Hiasan wajah yang natural namun elegan sangat sempurna di wajah cantiknya.

***

“SAH”

Kata yang tak pernah Melisa bayangkan kini terdengar menggema ke seisi rumahnya, dengan lantunan doa yang khusuk di iringi kata Aamiin sebagai pelengkapnya.

“Ayo keluar” ajak ibu masih dengan suara dinginnya.

Melisa hanya bisa menurut ia mengikuti langkah ibunya menuju ruang tamu tempat di adakannya Ijab kabul, terlihat punggung seorang pria sedang duduk dengan stelan jas hitamnya.

Melisa bersimpuh dihadapan penghulu, beberapa saksi dan juga pamannya yang menjadi wali nikahnya karena Melisa hanyalah seorang gadis dengan status anak yatim yang di tinggal ayahnya saat masih dalam kandungan sang ibu.

“Bagaimana? apa benar ini mempelai wanitanya?” goda pak penghulu yang membuat para tamu semuanya terkekeh, tak ada jawaban dari pria disebelahnya itu, ia hanya menganggukan kepalanya sekali.

Bagaimana ia dengan santainya bersikap begitu? bahkan mengenalku pun tidak. Bathin Melisa yang masih menundukan wajahnya.

Sepasang cincin dalam kotak berwarna merah menjadi pusat perhatian Melisa, ia terus saja menatap benda itu dengan tatapan sedih dan tak percaya.

Perlahan tangan pria itu menyentuh tangannya, meraih cincin bermata kan berlian untuk ia sematkan di jari manis Melisa.

Ada perasaan haru dalam hatinya saat benda itu benar-benar terpasang dengan sempurna.

“Ayo Pakaikan juga di jari suamimu” ucap pak penghulu membuyarkan lamunannya.

Kini secara bergantian Melisa yang meraih satu buah cincin putih polos, dengan tangan bergetar ia pun akhirnya mampu memasukkan benda itu pada jari manis pria disampingnya..

CUP

Satu kecupan mendarat sempurna di pipi mulusnya yang mengundang gelak tawa lagi dari para tamu undangan.

Melisa yang kaget semakin memejamkan matanya, terasa deru nafas hangat di telinga kanannya. “Hai, aku suami dadakanmu” bisik pria itu pelan seakan menggoda.

Tangannya yang bergetar kini mengeluarkan keringat dingin, ia belum berani membuka matanya meski sejenak karna detak jantung yang semakin berdegup.

Tak ada jamuan khusus, selesai ijab kabul hanya ada hidangan kue kue yang terhampar untuk menjamu para tamu.

Kedua pengantin bergegas menghampiri keluarga untuk meminta restu, Melisa lebih dulu memeluk ibunya, tangisnya pecah lagi saat ia merasakan dekapan dari ibunya, ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali mereka bersentuhan.

“Mohon doanya, Bu” ucap Melisa kepada ibunya.

“Ya, tapi setelah ini jangan datang lagi menemuiku” jawabnya ketus.

DEG

Hati anak mana yang tak sakit?

Namun ia hanya mengangguk dan dengan senyum memaksa.

“Bu,” Melisa berhamburan menyalami dan memeluk wanita yang nampak masih cantik di usia setengah abad nya itu.

“Panggil, Mama, Ok!” pintanya dengan suara lembut, ialah ibu Riana, yang kini menjadi mama mertua Melisa.

Melisa menatap wanita itu dengan lekat, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

“Pak,” kini Melisa menuju pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan berwibawa. “Papa, panggil papa, Ya!” ucap pak Wisnu Rahardian Wijaya.

Lagi-lagi ia tak percaya dengan apa yang ia dengar, sudahkah ia diterima dengan baik di keluarga barunya?.

Fikiran nya teralihkan pada sosok gadis manis yang sudah sedari tadi tersenyum kearahnya.

“Hallo, Kaka” sapanya ramah.

“Hallo juga cantik”? Melisa memeluk gadis itu dengan rasa haru dan bahagia.

————– *****————–

Setelah acara selesai Melisa menatap bingung kearah mama mertuanya yang menariknya kearah sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam.

“Mah, mau kemana?” tanya Melisa bingung.

“Kamu langsung tinggal dirumah kita, sayang” jawab mama dengan senyum hangatnya.

“Tapi, mah!”

“Sudah masuk, cepat!” titah mama langsung mendorong tubuh Melisa untuk segera masuk kedalam mobil.

Tanpa bisa membantah, kini ia sudah duduk bersandar pada kursi belakang bersama seorang gadis yang tadi memeluknya, namun pandangannya sesaat menangkap sosok pria yang tadi menciumnya tanpa ijin itu lebih dulu masuk kedalam sebuah mobil sport berwarna putih..

mau kemana dia? gumam Melisa.

“kakak” suara gadis itu membuyarkan lamunan Melisa.

“iya, sayang.. kakak akan ikut kerumahmu” ucapnya pada si gadis bermata coklat itu.

Sepanjang jalan fikirannya melayang kebanyak hal, dari mulai alasan pernikahan nya yang tiba-tiba sampai Siapakah keluarga suaminya ini sebenarnya.

Mobil berhenti tepat di sebuah bangunan rumah mewah, halaman yang sangat luas dan pagar hitam menjulang tinggi.

Melisa tak henti-hentinya berdecak kagum dalam hatinya, sampai ia tak sadar jika kedua mertuanya sedang terkekeh menatapnya.

“Ayo masuk” ajak papa.

Melisa yang kembali ditarik mama hanya mengekor di belakangnya, sampai pada ruang tengah yang teramat luas.

“Ajak kakakmu kekamar, ya. mama dan papa akan istirahat” ucap mama pada gadis kecil yang sedang menggandeng Melisa.

“Ayo, Kak!” ajaknya antusias..

Melisa menaiki tangga beriringan sampai pada sebuah pintu bercat coklat.

“Ini kamarnya, Kakak. istirahat ya, kamarku di sebelah sana” tunjuk nya pada sebuah pintu disebelahnya.

“Namamu siapa?” tanya Melisa sambil mengelus rambut panjangnya.

“Ameera, tapi semua memanggilku Adek.” jawabnya menggemaskan.

“Baiklah, Nama kakak Melisa”

“Aku udah tau, haha”

Melisa menggelengkan kepalanya menatap punggung adik iparnya itu yang kemudian masuk kedalam kamarnya.

Ceklek.

Dengan pelan Melisa membuka knop pintu bercat coklat itu dan kemudian matanya membulat besar saat melihat apa yang ada di hadapannya kini.

Sebuah kamar seluas rumahnya, dengan kasur king size terlihat sangat mewah dengan lemari lima pintu disampingnya.

Terdapat juga meja rias dengan kaca besar, lalu ia menoleh kearah sampingnya, disana ada sofa panjang yang menghadap langsung pada TV yang menempel pada dinding.

“Apa ini kamar?” ucap Melisa yang masih diam terpaku.

Dengan pelan ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur seakan kasur itu sedang menggoda tubuhnya yang lelah.

Dan..

Dengan cepat ia baringkan tubuhnya di pusara ranjang tanpa melepas kebaya pengantinnya.

Ia pun terlelap terbuai mimpi.

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan pintu, dengan cepat Melisa mengerjapkan matanya mencari sumber suara.

Ini dimana? gumamnya dengan mengucek kedua matanya.

Tok tok tok..

“Iya, tunggu” dengan langkah malas akhirnya ia turun juga dari tempat tidur untuk membuka pintu..

“Ada apa?” tanyanya bingung pada seorang pelayan yang menunduk hormat padanya.

“Nyonya dan Tuan sudah menunggu Nona di ruang makan?” ucapnya sopan

“Siapa?” Melisa yang setengah sadar menatap pelayan itu dengan seksama..

“Mertua anda, Nona” jawabnya dengan senyum kecil

“Mertua!!!”? Melisa membulatkan matanya terkejut,

“Ya ampun, belum sehari menikah aku sudah membuat Mertuaku menunggu”

Dengan langkah panik dan tergesa Melisa langsung masuk kedalam kamar mandi, membuka seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower..

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Baca Serial Lengkapnya : Suami Dadakan

Leave a Reply

Your email address will not be published.